27 May

Kemuliaan Guru di Mata Islam dan asy-Syauqi

white-landscape-wallpaper-hd-1

Memuliakan guru, menghormatinya, mendahulukannya dalam penunaian hak, adalah tuntunan Islam. Bukan karena latarbelakang individu Sang Guru, namun semata-mata karena kemuliaan ilmu yang diajarkannya. Rasulullâh pernah mengajarkan kepada para Sahabatnya sebuah kalimat yang agung, saat beliau bersabda:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّه

“Bukan termasuk ummatku; mereka yang tidak memuliakan para sesepuh kita, mereka yang tidak menyayangi generasi muda kita, dan mereka yang tidak mengenal hak-hak ‘alim-ulama kita.”[1]

Do’a para malaikat senantiasa menyertai para guru kebajikan. Yang membimbing manusia dengan ilmunya di atas jalan Allâh yang lurus. Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita:

إنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جِحرِهَا وَحَتَّى الْحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Sesungguhnya Allâh, Malaikat-Malaikat-Nya, beserta penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada dalam sarangkan, demikian pula dengan ikan-ikan; benar-benar berdo’a untuk mereka para guru yang mengajarkan kebajikan pada manusia.” [Hadits Hasan, lih. Misykâtul Mashâbîh no. 213]

Penghuni bumi memunajatkan do’a kepada para guru kebajikan sebagai wujud syukur atas jasa-jasa yang mereka taburkan di muka bumi. Atas sebab merekalah kemaslahatan di dunia tercipta. Betapa tidak, merekalah yang telah mendidik orang-orang semisal Abu Bakar ash-Shiddiq. Merekalah yang telah mendidik manusia-manusia terbaik semisal ‘Umar bin Khaththab, penebar keadilan dan kejayaan Islam di masanya. Para gurulah yang telah menelurkan generasi-generasi terbaik semisal Imam Ahmad dan Syâfi’i. Para gurulah yang telah mencetak manusia-manusia berkarakter semisal ‘Umar bin Abdil Aziz, Harun ar-Râsyîd, dan Shalahuddin al-Ayubi. Gurulah yang telah melahirkan ke muka bumi para cendikiawan besar semisal al-Bukhari dan Muslim.

Penghuni langit pun ikut berdo’a, sebagai wujud syukur atas jasa-jasa para guru kebajikan yang mengajarkan manusia tentang kebesaran Allâh, tentang sifat-sifat-Nya yang sempurna lagi mulia, tentang nama-nama-Nya yang indah, tentang tata cara beribadah dan berbakti kepada-Nya. Atas jasa mereka, Allâh tidak hanya disembah di langit, tapi juga di bumi. [Terinspirasi dari ucapan Ibnul Qayyim dalam Miftâh Dâris-sa’âdah: 1/63]

Semoga Allâh merahmati asy-Syauqi yang berkata dalam syairnya:

قُم لِلمُعَلِّمِ وَفِّهِ التَبْجِيْلًا كادَ المُعَلِّمُ أَن يَكونَ رَسُوْلًا

“Sambutlah Sang Guru, dan berikan penghormatan untuknya ** Hampir-hampir seorang guru menjadi seorang Rasul (atau menyamai fungsi dan kedudukannya).”

أَعَلِمْتَ أَشرَفَ أَو أَجَلَّ مِنَ الَّذِيْ يَبْنِيْ وَيُنشِئُ أَنفُسًا وَعُقُوْلًا

“Tahukah engkau ada orang yang lebih mulia dan lebih agung dibanding orang ** yang membangun dan membina jiwa-jiwa dan akal?”

سُبحانَكَ اللَهُمَّ خَيرَ مُعَلِّمٍ عَلَّمتَ بِالقَلَمِ القُرونَ الأولى

“Mahasuci Engkau Yaa Allâh, Engkaulah Pendidik dan Pengajar terbaik ** Engkau mengajarkan dengan Pena semenjak kurun yang pertama.”

أَخرَجْتَ هَذَا العَقْلَ مِنْ ظُلُمَاتِهِ وَهَدَيْتَهُ النُّوْرَ المُبِيْنَ سَبِيْلًا

“Engkau mengeluarkan akal dari kegelapan (yang menyelubungi)-nya ** dan Engkau memberinya cahaya petunjuk sebagai jalan.”

وَطَبَعْتَهُ بِيَدِ المُعَلِّمِ تارَةً صَدِئَ الحَدِيْدُ وَتَارَةً مَصْقُوْلًا

“Engkau mencetak (generasi) melalui tangan seorang guru, yang terkadang ** telah menjadi besi berkarat, dan terkadang telah dipoles.”

أَرْسَلتَ بِالتَوْرَاةِ مُوْسَى مُرْشِدًا وَابْنَ البَتُوْلِ فَعَلَّمَ الإِنْجِيْلًا

“Engkau mengutus Musa dengan Taurat sebagai pembimbing ** demikian pula Putra Sang Perawan (‘Isa ‘alaihissalam) yang mengajarkan Injil.”

وَفَجَّرَتَ يَنبُوْعَ البَيَانِ مُحَمَّداً فَسَقَى الحَدِيْثَ وَنَاوَلَ التَنْزِيْلًا

“Dan Engkau semburkan mata air wahyu bagi Muhammad r ** lantas ia menuangkan hadits (dengan mengajarkannya) dan menyampaikan al-Qur’an.”[2]

***

Lombok, 15 Jumadal Akhîr 1434 / 25-04-2013

Jo Saputra Halim (Abu Ziyan)


[1] Musnad Imâm Ahmad: 22807.

[2] Diwân asy-Syauqi: 497, lih. Shaidul Afkâr: 26-27, asy-Syâmilah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Pondok Pesantren Abu Hurairah Mataram | Semua hak hanyalah milik Allah 'azza wa jalla | Theme: Fruitfull fruitfulcode