Category Archives: MA

17 Feb

Kiat-Kiat Dalam Mengikhlaskan Niat

Untitled-9

Tulisan ini adalah salah satu karya anak didik kami, Ammar Muhammad Syamach (Santri kelas XI-A, MAP Abu Hurairah Mataram). Semoga bisa mendatangkan faidah yang besar bagi sidang pembaca. Kami juga berharap agar tulisan yang sarat akan manfaat ini bisa disebarkan di media-media sosial melalui Anda.

***

Syaitan senantiasa menghadang langkah manusia untuk merusak amal shalih mereka, dan seorang mukmin akan senantiasa berada dalam jihad melawan iblis hingga ia berjumpa dengan Rabb-Nya kelak dalam keadaan ber-Iman dan ikhlas semata karena-Nya dalam setiap amal. Dan tentunya keikhlasan membutuhkan perjuangan keras baik sebelum beramal, ketika mengamalkannya, maupun sesudahnya. Diantara hal-hal yang dapat menimbulkan keikhlasan adalah:

  1. 1.      Do’a

Hidayah seluruhnya di tangan Allah dan hati manusia berada di antara dua jari-jemari Allah Yang Maha Pengasih, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh karna itu kembalilah kalian kepada Rabb yang seluruh hidayah berada di tangan-Nya, kita harus menampakkan rasa butuh dan hina di hadapan-Nya, dan senantiasa meminta keikhlasan dari-Nya.

Do’a Umar bin Khaththab yang paling sering ia ucapkan adalah:

اللهم اجعل عملي  كله صالحا, واجعله لوجهك خالصا ولا تجعل لأحد فيه شيئا.

“Ya Allah, jadikanlah amalku shalih semuanya dan jadikanlah ia ikhlas karna-Mu dan janganlah Engkau jadikan untuk seorang dari amal itu sedikitpun.”

  1. 2.      Menyembunyikan Amal

Semakin tersembunyi suau amalan yang memang dianjurkan untuk disembunyikan maka semakin besar pula peluangnya untuk diterima dan semakin besar kemungkinan untuk dilakukan dengan ikhlas. Orang yang benar-benar ikhlas suka menyembunyikan amalnya sebagaimana dia suka menutupi kejelekannya.

 

Biysr Ibnul Haris berkata,”jangan kau beramal supaya dikenang. Sembunyikanlah kejelekanmu.” Oleh karna itu shalat sunnah di malam hari lebih diutamakan dari pada shalat sunnah disiang hari, sebagaimana diutamakannya beristigfar diwaktu sahur lebih di utamakan dari pada di waktu lain karna lebih tersembunyi dan lebih dekat kepada keikhlasan.

  1. 3.      Memperhatikan amal mereka yang lebih baik

Dalam beramal shalih jangan memperhatiakan amalan orang di zamanmu yang tertinggal olehmu dalam berlomba-lomba mendapat kebaikan, namun berkeinginanlah untuk selalu meneladani para nabi dan orang-orang shalih.

Allah berfirman:

” mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.”(QS. A-An’aam: 90)

 

Bacalah biografi orang-orang shalih dari kalangan ulama’ ahli ibadah, orang-orang terpandang, dan orang-orang yang zuhud. Hal itu dapat menimbulkan kesan yang baik dan akan menambah keimanan dalam hati.

  1. 4.      Memandang remeh apa yang telah diamalkan

Adalah sebuah kekeliruan tatkala seseorang merasa ridha dengan dirinya. Orang yang memandang ridha dirinya, sungguh ia telah membinasakan dirinya sendiri, dan orang yang memandang amalnya dengan rasa kagum berarti telas mengikis keikhlasannya, atau bahkan keikhlasan itu telah tercabut sehingga amalnya bagaikan daun-daun yang berguguran di musim semi.

Sa’id bin jubair berkata,” Ada seseorang yang masuk surga karna kemaksiatan yang dilakukannya, dan ada orang yang masuk neraka karna sebuah kebaikan yang dilakukannya.” Orang-orang pun bertanya keheranan,” bagaimana bisa begitu?” Maka lanjutnya,”Seseorang melakukan kemaksiatan kemudian ia senantiasa cemas terhadap dosa yang telah dilakukannya itu, kemudian ia menghadap Allah dan Allah mengampuninya karna rasa takutnya kepada-Nya, dan seseorang yang berbuat sebuah kebaikan lalu ia senantiasa mengaguminya, kemudian iapun menghadap Allah dengan sikapnya itu maka Allah mencampakkanya kedalam neraka.”

  1. 5.      Khawatir kalau kalau amalannya tidak diterima

Anggap remehlah semua amalan yang telah anda perbuat, kemudian jadilah anda orang yang senantiasa khawatir kalau kalau amal anda tidak diterima.

Para ulama’ terdahulu sering mengucapkan dalam do’a mereka:

اللهم إنا نسألك العمل اصالح وحفظه.

“Ya Allah, kami memohon agar Engkau mengaruniai kami amal shalih dan menjaganya.”

Di antara bentuk penjagaan itu ialah sirnanya rasa kagum terhadap amal shalih yang kita kerjakan, namun justru rasa khawatirlah yang timbul kalau-kalau amal kita tidak diterima.

Allah Ta’ala berfirman:

“dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”(QS. Al-Mukminun: 58-61)

  1. 6.      Senantiasa ingat bahwa surga dan neraka bukan milik manusia

Wajib bagi seorang mukmin untuk meyakini bahwa manusia tidak dapat memasukkan anda ke dalam surga, merekapun tidak kuasa mengeluarkan anda dari neraka. Ibnu Rajab berkata: “Barang siapa shalat, puasa, dan berdzikir namun ia meniatkannya untuk mencari perniagaan dunia, maka tidak ada kebaikan sedikitpun pada orang itu, yang demikian itu karena ia mendapat dosa karenanya sehingga amalan tersebut tidak bermanfaat baginya, dan tidak pula bagi orang lain.

  1. 7.      Ingatlah bahwa anda akan berada dalam kubur sendirian

Jiwa akan senantiasa baik jika mengingat tempat kembalinya. Jika seorang hamba ingat bahwa ia akan berbantalkan tanah sendirian dalam kuburnya tanpa ada teman yang menghibur, ingat bahwa tidak ada yang berguna baginya selain amal shalihnya, ingat bahwa seluruh manusia tidak berdaya sedikitpun siksa kubur darinya, ingat bahwa seluruh urusannya berada ditangan Allah, ketika itulah ia yakin bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali dengan mengiklaskan seluruh amalnya hanya kepada Allah Yang Maha Pencipta semata.

***

Penyusun: Ammar Muhammad Syamach (Santri MAP Abu Hurairah Kelas XI-A)

 

 

Pondok Pesantren Abu Hurairah Mataram | Semua hak hanyalah milik Allah 'azza wa jalla | Theme: Fruitfull fruitfulcode